Minggu, 10 Mei 2015

Faktor Penentu Pribadi Manusia

Pribadi manusia menurut Sujanto dkk. (1999: 3-4) tumbuh dari 2 kekuatan, yaitu :
1.      Kekutan dari dalam, yang sudah dibawa sejak lahir, berwujud benih, bibit atau sering disebut kemampuan-kemampuan dasar atau oleh Ki Hajar Dewantoro disebut faktor dasar, dan
2.      Kekuatan dari luar, faktor lingkungan yang oleh Ki Hajar Dewantoro disebut faktor ajar.

Secara fisik kepribadian dapat ditentukan berupa panjang pendek leher, besar kecil tenggorokan, susunan saraf, otot-otot, susunan dan keadaan tulang-tulang. Sedangkan secara psikis, kepribadian ditentukan oleh pikiran, perasaan, kemauan, frustasi, ingatan dan sebagainya. Kekuatan dari  luar adalah segala sesuatu yang ada di luar manusia, baik berupa benda hidup atau benda mati. Semua kekuatan dari luar ini ikut serta membentuk kepribadian seseorang yang berbeda di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, individu terpengaruh lingkungan dan sebaliknya lingkungan dipengaruhi atau diubah  juga oleh  individu.
Hurlock (1990: 237) mengemukakan beberapa penentu kepribadian (determinants of personality ) yang mempunyai pengeruh terbesar pada  inti pola kepribadian  meliputi 2, yaitu:
1.      Konsep Diri
Konsep diri merupakan penilaian terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terbagi 2 yaitu: konsep diri sebenarnya dan konsep diri ideal. Konsep diri sebenarnya merupakan konsep seseorang tentang dirinya yang sebagian besar ditentukan oleh peran dan hubungannya dengan orang lain serta persepsinya tentang penilaian orang lain terhadap dirinya. Sedangkan konsep diri ideal merupakan gambaran seseorang mengenai penampilan dan kepribadian yang dambakannya.

2.      Sifat
Sifat-sifat adalah kualitas perilaku atau pola penyesuaian spesifik, misalnya reaksi terhadap frustasi, cara menghadapi masalah, perilaku agresif dan defensif, dan perilaku terbuka atau tertutup dihadapan orang lain. Ciri tersebut terintegrasi dengan dan dipengaruhi oleh konsep diri.
Sifat-sifat mempunyai 2 ciri menonjol, yaitu: 1. Individualitas yang dipertimbangkan dalam variasi kuantitas ciri tertentu, dan bukan dalam kekhasan ciri bagi orang itu. 2. Konsistensi yaitu kecenderungan seseorang untuk bersikap dengan cara yang hampir sama dalam situasi dan kondisi serupa.

Hurlock (1990: 284-287) mengemukakan penentu-penentu kepribadian yang berpengaruh terhadap inti pola kepribadian, diantaranya:
a.      Pengalaman Awal
Pentingnya pengalaman awal untuk perkembangan kepribadian pertama-tama ditekankan oleh Freud. Rank (dalam Hurlock, 1991: 284) juga menyatakan bahwa trauma kelahiran atau kejutan psikologis yang terjadi bila bayi dipisahkan dari ibunya mempunyai pengaruh yang lama pada kepribadian dengan jalan membuat individu merasa tidak aman. 

b.      Pengaruh Budaya
Sesungguhnya, pada setiap budaya, seseorang memiliki tekanan untuk mengembangkan suatu pola kepribadian yang sesuai dengan standar yang ditentukan budayanya. Kelompok budaya menetapkan model untuk pola kepribadian yang disetujui dan menekan individu-individu yang tergabung didalamnya untuk berperilaku sesuai dengan norma budaya yang bersangkutan. Misal dalam budaya Timur seseorang dilatih untuk mengembangkan pola kepribadian yang bercirikan loyalitas, kerjasama, pengorbanan diri dan peran seseorang dalam hidup yang sering tidak realitas. Sedangkan dalam budaya Barat yang lebih berorientasi ke individu seseorang akan menjadi lebih egosentris, lebih memperhatikan kemandirian dan hak mereka serta lebih mengutamakan kepentingan sendiri daripada orang lain.

c.       Ciri-ciri Fisik
Ciri-ciri fisik atau bentuk tubuh mempengaruhi kepribadian secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung ciri-ciri fisik menentukan bagaimana seseorang merasa tentang tubuhnya. Semakin banyak aktivitas dilakukan seseorang sesuai dengan ciri fisiknya akan semakin meningkatkan konsep diri positifnya dan pada akhirnya akan semakin mengembangkan kepribadian positifnya dan pada akhirnya akan semakin mengembangkan kepribadian positif individu yang bersangkutan. Semakin positif penilaian seseorang terhadap ciri fisiknya yang salah satunya ditentukan oleh adanya penilaian positif dari orang lain juga akan semakin meningkatkan konsep diri positif dan pada akhirnya memberi sumbangan yang berharga pada perkembangan kepribadian yang sehat.

d.      Kondisi Fisik
Terdapat 2 aspek kondisi yang mempengaruhi kepribadian, yaitu kesehatan umum dan cacat jasmani. Cacat jasmani menentukan kepribadian seseorang melalui cara pandang seseorang terhadap kecacatan tersebut. Semakin rendah penerimaan lingkungan sosial terhadap kecacatan seseorang akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya karena individu mengembangkan konsep diri yang negatif tentang dirinya dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnya.
Semakin banyak aktivitas dapat dilakukan oleh individu yang cacat akan semakin meningkatkan konsep diri positif yang pada akhirnya berpengaruh pada terbentuknya perkembangan kepribadian yang sehat.

e.       Keberhasilan dan Kegagalan
Keberhasilan menunjang konsep diri yang menguntungkan dan selanjutnya menumbuhkan penyesuaian dan evaluasi sosial yang baik dan pada akhirnya dapat menjadi dasar berkembangnya kepribadian yang baik.
Sedangkan kegagalan tidak saja merusak konsep diri seseorang akan tetapi juga mendorong perkembangan pola perilaku yang membahayakan penyesuaian peribadi dan sosial.

f.       Penerimaan Sosial
Penerimaan sosial yang tinggi menimbulkan rasa percaya diri tinggi yang berpengaruh pada pada peningkatan konsep diri positif. Sedangkan penerimaan sosial yang rendah menjadikan seseorang merasa inferior (rendah diri), menarik diri dari kontak sosial, dan mengembangkan sifat menutup diri yang pada akhirnya berpengaruh pada peningkatan konsep diri negatif. 

g.      Pengaruh Keluarga
Keluarga merupakan faktor sangat penting dalam perkembangan kepribadian seseorang. Keluarga yang mengembangkan pola asuh yang menerima dan menghargai individu akan meningkatkan konsep diri positif individu dan selanjutnya berpengaruh positif terhadap kepribadian, sedangkan keluarga yang mengembangkan pola asuh yang merendahkan harga diri seseorang akan mengembangkan konsep diri negatif dan selanjutnya berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian negatif.

h.      Tingkat penyesuaian

Tingkat penyesuaian diri yang tinggi memudahkan penerimaan lingkungan sosial terhadap individu yang bersangkutan dan selanjutnya berpengaruh positif terhadap kepribadian. Sedangkan tingkat penyesuaian sosial yang rendah menyulitkan penerimaan sosial yang terhadap individu yang bersangkutan dan selanjutnya berpengaruh negatif terhadap kepribadian. 

5 komentar:

  1. faktor dari luar sepertinya lebih banyak menjadi penentu pribadi manusia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti pepatah yg bilang kalau bermain dengan tukang parfume, maka akan selalu wangi :D

      Terimakasih telah membaca, jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini :)

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. mampir mampir ya gan
    http://belajarpedagogik.blogspot.com/

    BalasHapus