Pribadi manusia menurut Sujanto
dkk. (1999: 3-4)
tumbuh dari 2 kekuatan,
yaitu :
1. Kekutan dari dalam,
yang sudah dibawa sejak lahir, berwujud benih, bibit atau sering disebut
kemampuan-kemampuan dasar atau oleh Ki Hajar Dewantoro disebut faktor dasar,
dan
2. Kekuatan dari luar, faktor
lingkungan yang oleh Ki Hajar Dewantoro disebut faktor ajar.
Secara fisik
kepribadian dapat ditentukan berupa panjang pendek leher, besar kecil
tenggorokan, susunan saraf, otot-otot, susunan dan keadaan tulang-tulang. Sedangkan secara
psikis, kepribadian ditentukan oleh pikiran, perasaan, kemauan, frustasi,
ingatan dan sebagainya. Kekuatan dari
luar adalah segala sesuatu yang ada di luar manusia, baik berupa benda
hidup atau benda mati. Semua kekuatan dari luar ini ikut serta membentuk
kepribadian seseorang yang berbeda di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian,
individu terpengaruh lingkungan dan sebaliknya lingkungan dipengaruhi atau
diubah juga oleh individu.
Hurlock (1990: 237) mengemukakan beberapa
penentu kepribadian (determinants of
personality ) yang mempunyai pengeruh terbesar pada inti pola kepribadian meliputi 2, yaitu:
1.
Konsep
Diri
Konsep diri merupakan
penilaian terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terbagi 2 yaitu: konsep
diri sebenarnya dan konsep diri ideal. Konsep
diri sebenarnya merupakan konsep seseorang tentang dirinya yang sebagian
besar ditentukan oleh peran dan hubungannya dengan orang lain serta persepsinya
tentang penilaian orang lain terhadap dirinya. Sedangkan konsep diri ideal merupakan gambaran seseorang mengenai
penampilan dan kepribadian yang dambakannya.
2.
Sifat
Sifat-sifat adalah
kualitas perilaku atau pola penyesuaian spesifik, misalnya reaksi terhadap
frustasi, cara menghadapi masalah, perilaku agresif dan defensif, dan perilaku
terbuka atau tertutup dihadapan orang lain. Ciri tersebut terintegrasi dengan
dan dipengaruhi oleh konsep diri.
Sifat-sifat mempunyai 2
ciri menonjol, yaitu: 1. Individualitas
yang dipertimbangkan dalam variasi kuantitas ciri tertentu, dan bukan dalam
kekhasan ciri bagi orang itu. 2. Konsistensi yaitu kecenderungan seseorang
untuk bersikap dengan cara yang hampir sama dalam situasi dan kondisi serupa.
Hurlock (1990: 284-287) mengemukakan
penentu-penentu kepribadian yang berpengaruh terhadap inti pola kepribadian,
diantaranya:
a.
Pengalaman
Awal
Pentingnya pengalaman
awal untuk perkembangan kepribadian pertama-tama ditekankan oleh Freud. Rank
(dalam Hurlock, 1991: 284)
juga menyatakan bahwa trauma kelahiran atau kejutan psikologis yang terjadi
bila bayi dipisahkan dari ibunya mempunyai pengaruh yang lama pada kepribadian
dengan jalan membuat individu merasa tidak aman.
b.
Pengaruh
Budaya
Sesungguhnya, pada
setiap budaya, seseorang memiliki tekanan untuk mengembangkan suatu pola
kepribadian yang sesuai dengan standar yang ditentukan budayanya. Kelompok
budaya menetapkan model untuk pola kepribadian yang disetujui dan menekan
individu-individu yang tergabung didalamnya untuk berperilaku sesuai dengan
norma budaya yang bersangkutan. Misal dalam budaya Timur seseorang dilatih
untuk mengembangkan
pola kepribadian yang bercirikan loyalitas, kerjasama, pengorbanan diri dan
peran seseorang dalam hidup yang sering tidak realitas. Sedangkan dalam budaya
Barat yang lebih berorientasi ke individu seseorang akan menjadi lebih
egosentris, lebih memperhatikan kemandirian dan hak mereka serta lebih
mengutamakan kepentingan sendiri daripada orang lain.
c.
Ciri-ciri
Fisik
Ciri-ciri fisik atau bentuk
tubuh mempengaruhi kepribadian secara langsung maupun tidak langsung. Secara
tidak langsung ciri-ciri
fisik menentukan bagaimana seseorang merasa tentang tubuhnya. Semakin banyak
aktivitas dilakukan seseorang sesuai dengan ciri fisiknya akan semakin meningkatkan konsep diri
positifnya dan pada akhirnya akan semakin mengembangkan kepribadian positifnya
dan pada akhirnya akan semakin mengembangkan kepribadian positif individu yang
bersangkutan. Semakin positif penilaian seseorang terhadap ciri fisiknya yang
salah satunya ditentukan oleh adanya penilaian positif dari orang lain juga
akan semakin meningkatkan konsep diri positif dan pada akhirnya memberi
sumbangan yang berharga pada perkembangan kepribadian yang sehat.
d.
Kondisi
Fisik
Terdapat 2 aspek
kondisi yang mempengaruhi kepribadian,
yaitu
kesehatan umum dan cacat jasmani. Cacat jasmani menentukan kepribadian
seseorang melalui cara pandang seseorang terhadap kecacatan tersebut. Semakin
rendah penerimaan lingkungan sosial terhadap kecacatan seseorang akan
berpengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya karena individu
mengembangkan konsep diri yang negatif tentang dirinya dalam kaitannya dengan
lingkungan sosialnya.
Semakin banyak
aktivitas dapat dilakukan oleh individu yang cacat akan semakin meningkatkan
konsep diri positif yang pada akhirnya berpengaruh pada terbentuknya
perkembangan kepribadian yang sehat.
e.
Keberhasilan
dan Kegagalan
Keberhasilan menunjang
konsep diri yang menguntungkan dan selanjutnya menumbuhkan penyesuaian dan
evaluasi sosial yang baik dan pada akhirnya dapat menjadi dasar berkembangnya
kepribadian yang baik.
Sedangkan kegagalan
tidak saja merusak konsep diri seseorang akan tetapi juga mendorong
perkembangan pola perilaku yang membahayakan penyesuaian peribadi dan sosial.
f.
Penerimaan
Sosial
Penerimaan sosial yang
tinggi menimbulkan rasa percaya diri tinggi yang berpengaruh pada pada
peningkatan konsep diri positif. Sedangkan penerimaan sosial yang rendah
menjadikan seseorang merasa inferior
(rendah diri), menarik diri dari kontak sosial, dan mengembangkan sifat menutup
diri yang pada akhirnya berpengaruh pada peningkatan konsep diri negatif.
g.
Pengaruh
Keluarga
Keluarga merupakan
faktor sangat penting dalam perkembangan kepribadian seseorang. Keluarga yang
mengembangkan pola asuh yang menerima dan menghargai individu akan meningkatkan
konsep diri
positif individu dan selanjutnya berpengaruh positif terhadap kepribadian,
sedangkan keluarga yang mengembangkan pola asuh yang merendahkan harga diri
seseorang akan mengembangkan konsep diri negatif dan selanjutnya berpengaruh
terhadap pembentukan kepribadian negatif.
h.
Tingkat
penyesuaian
Tingkat penyesuaian
diri yang tinggi memudahkan penerimaan lingkungan sosial terhadap individu yang
bersangkutan dan selanjutnya berpengaruh positif terhadap kepribadian.
Sedangkan tingkat penyesuaian sosial yang rendah menyulitkan penerimaan sosial
yang terhadap individu yang bersangkutan dan selanjutnya berpengaruh negatif
terhadap kepribadian.
faktor dari luar sepertinya lebih banyak menjadi penentu pribadi manusia
BalasHapusSeperti pepatah yg bilang kalau bermain dengan tukang parfume, maka akan selalu wangi :D
HapusTerimakasih telah membaca, jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini :)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmampir mampir ya gan
BalasHapushttp://belajarpedagogik.blogspot.com/
Thank you for sharing :)
BalasHapus