Pernahkah kita berpikir
mengapa kita memiliki sikap yang berbeda dengan orang lain? Mengapa kita
bersikap tidak percaya diri sementara orang lain dapat bersikap sangat percaya
diri, atau mungkin sebaliknya? Mengapa kita dapat bekerja sama dengan orang
lain, sementara teman kita tidak dapat bekerja sama dengan orang lain? Apa yang
menyebabkan kita memiliki tingkah laku yang tidak sama dengan orang lain?
Perbedaan tingkah laku
tersebut disebabkan adanya perbedaan pola perlakuan orangtua kepada tiap-tiap
anak. Dimana setiap perlakuan yang orangtua berikan kepada anak memiliki
pengaruh tersendiri terhadap kepribadian anak. Hurlock (dalam Syamsu, 2011) menjelaskan
beberapa pengaruh pola perlakuan orangtua terhadap profil tingkah laku anak.
1.
Overprotection (terlalu melindungi)
Orangtua yang memiliki pola perlakuan overprotection atau terlalu melindungi
cenderung memiliki kontak yang berlebihan dengan anak, memberikan perawatan
atau pemberian bantuan kepada anak yang terus-menerus, meskipun anak sudah
mampu merawat dirinya sendiri. Orangtua dengan pola perlakuan overprotection juga cenderung mengawasi kegiatan
anak secara berlebihan dan cenderung ikut campur dalam memecahkan masalah anak.
Pola perlakuan orang tua yang overprotection atau terlalu melindungi dapat membuat anak memiliki
perasaan tidak aman, bersikap agresif dan dengki, mudah merasa gugup, cenderung
melarikan diri bila dihadapkan
pada suatu kenyataan yang pahit, sangat bergantung terhadap orang lain, ingin
menjadi pusat perhatian, bersikap menyerah, lemah dalam “ego strength”, kurang mampu
mengendalikan emosi, menolak tanggung jawab, kurang percaya diri, mudah
terpengaruh oleh orang lain, peka terhadap kritik, egois/selfish, suka bertengkar, sulit bergaul, dan mudah mengalami “homesick”.
2.
Permissiveness (pembolehan)
Pola perlakuan orangtua yang permissiveness adalah pola asuh yang memberikan struktur dan
batasan-batasan yang tepat bagi anak-anak mereka. Pola asuh permissive merupakan bentuk pengasuhan
dimana orangtua memberikan kebebasan sebanyak mungkin pada anak untuk mengatur
dirinya. Anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab dan tidak banyak dikontrol
oleh orangtua.
Orangtua yang memiliki pola perlakuan yang permissiveness cenderung memberikan kebebasan
kepada anak untuk berpikir dan berusaha, menerima gagasan atau pendapat anak,
membuat anak merasa diterima dan merasa kuat, bersikap toleran dan memahami
kelemahan anak, dan cenderung memberikan apa yang anak minta. Anak yang
mendapatkan pola perlakuan permissiveness
dari orangtuanya cenderung pandai mencari jalan keluar, dapat bekerjasama
dengan orang lain, percaya diri, serta penuntut dan tidak sabaran.
3.
Rejection (penolakan)
Orangtua yang memiliki pola perlakuan rejection cenderung bersikap masa bodoh,
bersikap kaku, kurang mempedulikan kesejahteraan
anak, dan menampilkan sikap permusuhan atau dominasi terhadap anak. Anak yang
mendapatkan perlakuan rejection dari
orangtuanya cenderung bersikap agresif (mudah marah, gelisah, tidak patuh,
keras kepala, suka bertengkar dan nakal). Cenderung bersikap submissive (kurang dapat mengerjakan
tugas, pemalu, suka mengasingkan diri, mudah tersinggung dan penakut), sulit
bergaul, pendiam, bahkan bersikap sadis.
4.
Acceptance (penerimaan)
Orangtua yang memiliki pola perlakuan acceptance atau penerimaan cenderung
memberikan perhatian dan cinta kasih yang tulus kepada anak, menempatkan anak
dalam posisi yang penting di dalam rumah, mengembangkan hubungan yang hangat
dengan anak, bersikap respek terhadap anak, mendorong anak untuk menyatakan
perasaan atau pendapatnya, berkomunikasi dengan anak secara terbuka dan mau
mendengarkan segala permasalahan anak-anaknya.
Anak yang mendapatkan perlakuan acceptance dari orangtuanya cenderung bersikap mau bekerjasama
(kooperatif), bersahabat (friendly), loyal, memiliki emosi yang stabil, bersikap ceria dan optimis, mau menerima tanggung
jawab, jujur, dapat dipercaya, memiliki perencanaan yang jelas untuk mencapai
masa depan, bersikap realistik (memahami kekuatan dan kelemahan dirinya secara
objektif).
5.
Domination (dominasi)
Pola perlakuan
dominasi adalah pola asuh dimana orangtua bersikap sangat mendominasi segala
aspek kehidupan anak. Dimana orangtua cenderung bersikap sangat mendominasi
keputusan-keputusan yang hendak diambil oleh anak, rencana-rencana kehidupan
anak, bahkan hal-hal kecil lain dalam diri anak.
Anak yang sangat
didominasi oleh orangtuanya cenderung bersikap sopan dan sangat berhati-hati,
pemalu, penurut, inferior dan tidak dapat bekerjasama dengan orang lain. Selain
itu, anak yang mendapatkan pola perlakuan yang dominasi dari orangtuanya cenderung
mudah bingung dalam membuat keputusan, ini terjadi karena orangtua terlalu
sering mendominasi pilihan-pilihan yang seharusnya dibuat sang anak sehingga
anak tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk membuat keputusan sendiri dan
bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.
6.
Submission (penyerahan)
Orangtua yang
memiliki pola perlakuan yang submission
senantiasa memberikan segala sesuatu yang diminta oleh anak dan membiarkan anak
berperilaku semaunya di rumah. Pola perlakuan yang submission atau penyerahan cenderung menjadikan anak tidak patuh,
tidak bertanggung jawab, bersikap agresif, bersikap teledor atau lalai,
bersikap otoriter, serta bersikap terlalu percaya diri.
7.
Punitiveness/overdiscipline (terlalu disiplin)
Pola perlakuan punitiveness atau overdiscipline adalah pola asuh yang terlalu disiplin dimana
orangtua mudah memberikan hukuman kepada anak apabila anak melakukan suatu
kesalahan atau bersikap tidak disiplin, dan menanamkan kedisiplinan secara
keras. Anak yang mendapatkan perlakuan punitiveness
atau overdiscipline di rumah
cenderung bersikap impulsif, tidak dapat mengambil keputusan, nakal, dan
memiliki sikap bermusuhan atau agresif.
Dari
ketujuh sikap atau perlakuan orangtua itu, tampak bahwa sikap “acceptance” merupakan yang baik untuk
dimiliki atau dikembangkan oleh orangtua. Sikap seperti ini ternyata telah
memberikan kontribusi kepada pengembangan kepribadian anak yang sehat. Dengan
begitu, suatu saat bila kita menjadi orangtua semoga kita dapat memberikan
perlakuan yang sesuai untuk membantu perkembangan kepribadian anak menjadi
lebih sehat.
Setelah
membaca artikel ini, jenis perlakuan orangtua apakah yang kamu terima
dikeluarga? Bagaimanapun perlakuan orangtua yang kamu terima, jangan buru-buru
marah dengan sikap orangtuamu ya... karena bagaimanapun pola perlakuan yang
orangtuamu berikan pada dasarnya mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk
kamu.
Sumber:
Yusuf, Syamsu. (2011). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja.
Bandung: Rosda.
terimakasih sangat bermanfaat sekali infonya :)
BalasHapussaya jadi semakin tahu pola perilaku apa yang lebih baik diberikan kepada anak
terimakasih telah membaca :)
Hapusjangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :D
menjadi orangtua memang tidak mudah, harus memiliki banyak pengetahuan dan diimbangi dengan praktik yang baik. terimakasih infonya sangat membantu !
BalasHapusitu sebabnya tidak pernah ada kata telah selesai belajar karena orangtua pun harus selalu recycle ilmunya untuk "membawa" anak.
Hapusterimakasih telah membaca :)
jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :D
setuju, banyak orang tua yang melarang anaknya ini itu, sehingga anak jadi pemberontak sering tak mematuhi perintah orang tuanya.
BalasHapuskecemasan orangtua seringkali menjadi faktor penghambat terbesar bagi perkembangan anak, maka pastikan telah memiliki pemahaman yang cukup untuk menjadi orangtua yang cerdas di masa depan.
Hapusterimakasih telah membaca :)
jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :D
betul banget nih!
BalasHapusbeda anak, beda orang tua, beda pelakuan, pasti beda karakter/kepribadiannya.
Setuju :D
Hapusterimakasih telah membaca, jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :)
kadang orang tua memposisikan anak sebagai miniatur dari dirinya dengan dalih bahwa demi kebahagian anak itu sendiri. nice info untuk calon orang tua :)
BalasHapusterimakasih telah membaca, jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :)
Hapusterimakasih telah membaca, jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :)
BalasHapuspara orang tua seharusnya mengetahui hal ini agar tidak salah dalam menerapkan pola asuh kepada anak-anaknya nih. makasi infonya :)
BalasHapusBaru sekarang saya baca tulisan ini.
BalasHapusSaya tidak tahu pola yg mana yg diterapkan orang tua saya. Dan saya tidak tahu pola yg mana yg diterima pasangan saya oleh orang tuanya. Yg jelas saya jadi sedih melihat perlakuanya terhadap anak-anak saya.