Rabu, 06 Mei 2015

Pengaruh Pola Perlakuan Orangtua terhadap Kepribadian Anak

Pernahkah kita berpikir mengapa kita memiliki sikap yang berbeda dengan orang lain? Mengapa kita bersikap tidak percaya diri sementara orang lain dapat bersikap sangat percaya diri, atau mungkin sebaliknya? Mengapa kita dapat bekerja sama dengan orang lain, sementara teman kita tidak dapat bekerja sama dengan orang lain? Apa yang menyebabkan kita memiliki tingkah laku yang tidak sama dengan orang lain?
Perbedaan tingkah laku tersebut disebabkan adanya perbedaan pola perlakuan orangtua kepada tiap-tiap anak. Dimana setiap perlakuan yang orangtua berikan kepada anak memiliki pengaruh tersendiri terhadap kepribadian anak.  Hurlock (dalam Syamsu, 2011) menjelaskan beberapa pengaruh pola perlakuan orangtua terhadap profil tingkah laku anak.

1.      Overprotection (terlalu melindungi)
Orangtua yang memiliki pola perlakuan overprotection atau terlalu melindungi cenderung memiliki kontak yang berlebihan dengan anak, memberikan perawatan atau pemberian bantuan kepada anak yang terus-menerus, meskipun anak sudah mampu merawat dirinya sendiri. Orangtua dengan pola perlakuan overprotection juga cenderung mengawasi kegiatan anak secara berlebihan dan cenderung ikut campur dalam memecahkan masalah anak.
Pola perlakuan orang tua yang overprotection atau terlalu melindungi dapat membuat anak memiliki perasaan tidak aman, bersikap agresif dan dengki, mudah merasa gugup, cenderung melarikan diri bila dihadapkan pada suatu kenyataan yang pahit, sangat bergantung terhadap orang lain, ingin menjadi pusat perhatian, bersikap menyerah, lemah dalam “ego strength”, kurang mampu mengendalikan emosi, menolak tanggung jawab, kurang percaya diri, mudah terpengaruh oleh orang lain, peka terhadap kritik, egois/selfish, suka bertengkar, sulit bergaul, dan mudah mengalami “homesick”.

2.      Permissiveness (pembolehan)
Pola perlakuan orangtua yang permissiveness adalah pola asuh yang memberikan struktur dan batasan-batasan yang tepat bagi anak-anak mereka. Pola asuh permissive merupakan bentuk pengasuhan dimana orangtua memberikan kebebasan sebanyak mungkin pada anak untuk mengatur dirinya. Anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab dan tidak banyak dikontrol oleh orangtua.
Orangtua yang memiliki pola perlakuan yang permissiveness cenderung memberikan kebebasan kepada anak untuk berpikir dan berusaha, menerima gagasan atau pendapat anak, membuat anak merasa diterima dan merasa kuat, bersikap toleran dan memahami kelemahan anak, dan cenderung memberikan apa yang anak minta. Anak yang mendapatkan pola perlakuan permissiveness dari orangtuanya cenderung pandai mencari jalan keluar, dapat bekerjasama dengan orang lain, percaya diri, serta penuntut dan tidak sabaran.

3.      Rejection (penolakan)
Orangtua yang memiliki pola perlakuan rejection cenderung bersikap masa bodoh, bersikap kaku, kurang mempedulikan kesejahteraan anak, dan menampilkan sikap permusuhan atau dominasi terhadap anak. Anak yang mendapatkan perlakuan rejection dari orangtuanya cenderung bersikap agresif (mudah marah, gelisah, tidak patuh, keras kepala, suka bertengkar dan nakal). Cenderung bersikap submissive (kurang dapat mengerjakan tugas, pemalu, suka mengasingkan diri, mudah tersinggung dan penakut), sulit bergaul, pendiam, bahkan bersikap sadis.

4.      Acceptance (penerimaan)
Orangtua yang memiliki pola perlakuan acceptance atau penerimaan cenderung memberikan perhatian dan cinta kasih yang tulus kepada anak, menempatkan anak dalam posisi yang penting di dalam rumah, mengembangkan hubungan yang hangat dengan anak, bersikap respek terhadap anak, mendorong anak untuk menyatakan perasaan atau pendapatnya, berkomunikasi dengan anak secara terbuka dan mau mendengarkan segala permasalahan anak-anaknya.
Anak yang mendapatkan perlakuan acceptance dari orangtuanya cenderung bersikap mau bekerjasama (kooperatif), bersahabat (friendly), loyal, memiliki emosi yang stabil, bersikap ceria dan optimis, mau menerima tanggung jawab, jujur, dapat dipercaya, memiliki perencanaan yang jelas untuk mencapai masa depan, bersikap realistik (memahami kekuatan dan kelemahan dirinya secara objektif).

5.      Domination (dominasi)
Pola perlakuan dominasi adalah pola asuh dimana orangtua bersikap sangat mendominasi segala aspek kehidupan anak. Dimana orangtua cenderung bersikap sangat mendominasi keputusan-keputusan yang hendak diambil oleh anak, rencana-rencana kehidupan anak, bahkan hal-hal kecil lain dalam diri anak.
Anak yang sangat didominasi oleh orangtuanya cenderung bersikap sopan dan sangat berhati-hati, pemalu, penurut, inferior dan tidak dapat bekerjasama dengan orang lain. Selain itu, anak yang mendapatkan pola perlakuan yang dominasi dari orangtuanya cenderung mudah bingung dalam membuat keputusan, ini terjadi karena orangtua terlalu sering mendominasi pilihan-pilihan yang seharusnya dibuat sang anak sehingga anak tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.

6.      Submission (penyerahan)
Orangtua yang memiliki pola perlakuan yang submission senantiasa memberikan segala sesuatu yang diminta oleh anak dan membiarkan anak berperilaku semaunya di rumah. Pola perlakuan yang submission atau penyerahan cenderung menjadikan anak tidak patuh, tidak bertanggung jawab, bersikap agresif, bersikap teledor atau lalai, bersikap otoriter, serta bersikap terlalu percaya diri.

7.      Punitiveness/overdiscipline (terlalu disiplin)
Pola perlakuan punitiveness atau overdiscipline adalah pola asuh yang terlalu disiplin dimana orangtua mudah memberikan hukuman kepada anak apabila anak melakukan suatu kesalahan atau bersikap tidak disiplin, dan menanamkan kedisiplinan secara keras. Anak yang mendapatkan perlakuan punitiveness atau overdiscipline di rumah cenderung bersikap impulsif, tidak dapat mengambil keputusan, nakal, dan memiliki sikap bermusuhan atau agresif.

Dari ketujuh sikap atau perlakuan orangtua itu, tampak bahwa sikap “acceptance” merupakan yang baik untuk dimiliki atau dikembangkan oleh orangtua. Sikap seperti ini ternyata telah memberikan kontribusi kepada pengembangan kepribadian anak yang sehat. Dengan begitu, suatu saat bila kita menjadi orangtua semoga kita dapat memberikan perlakuan yang sesuai untuk membantu perkembangan kepribadian anak menjadi lebih sehat.

Setelah membaca artikel ini, jenis perlakuan orangtua apakah yang kamu terima dikeluarga? Bagaimanapun perlakuan orangtua yang kamu terima, jangan buru-buru marah dengan sikap orangtuamu ya... karena bagaimanapun pola perlakuan yang orangtuamu berikan pada dasarnya mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk kamu.


Sumber:

Yusuf, Syamsu. (2011). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Rosda.

13 komentar:

  1. terimakasih sangat bermanfaat sekali infonya :)
    saya jadi semakin tahu pola perilaku apa yang lebih baik diberikan kepada anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih telah membaca :)
      jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :D

      Hapus
  2. menjadi orangtua memang tidak mudah, harus memiliki banyak pengetahuan dan diimbangi dengan praktik yang baik. terimakasih infonya sangat membantu !

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu sebabnya tidak pernah ada kata telah selesai belajar karena orangtua pun harus selalu recycle ilmunya untuk "membawa" anak.
      terimakasih telah membaca :)
      jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :D

      Hapus
  3. setuju, banyak orang tua yang melarang anaknya ini itu, sehingga anak jadi pemberontak sering tak mematuhi perintah orang tuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kecemasan orangtua seringkali menjadi faktor penghambat terbesar bagi perkembangan anak, maka pastikan telah memiliki pemahaman yang cukup untuk menjadi orangtua yang cerdas di masa depan.

      terimakasih telah membaca :)
      jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :D

      Hapus
  4. betul banget nih!
    beda anak, beda orang tua, beda pelakuan, pasti beda karakter/kepribadiannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju :D

      terimakasih telah membaca, jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :)

      Hapus
  5. kadang orang tua memposisikan anak sebagai miniatur dari dirinya dengan dalih bahwa demi kebahagian anak itu sendiri. nice info untuk calon orang tua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih telah membaca, jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :)

      Hapus
  6. terimakasih telah membaca, jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan blog ini ya :)

    BalasHapus
  7. para orang tua seharusnya mengetahui hal ini agar tidak salah dalam menerapkan pola asuh kepada anak-anaknya nih. makasi infonya :)

    BalasHapus
  8. Baru sekarang saya baca tulisan ini.
    Saya tidak tahu pola yg mana yg diterapkan orang tua saya. Dan saya tidak tahu pola yg mana yg diterima pasangan saya oleh orang tuanya. Yg jelas saya jadi sedih melihat perlakuanya terhadap anak-anak saya.

    BalasHapus